Tahap Penyampaian Ikhlas

Selamat malam semuanya, tulisan x ini masih menyambung pada posting sebelumnya. Kali ini tentang cara penyampaian ikhlas kepada anak dan remaja.

Setiap anak harus di ajarkan untuk bermimpi, jangan sampai kemampuan permimpi ini hilang. Mimpi ini tumbuh menjadi cita-cita. Nah, lewat jalur cita-cita inilah konsep ikhlas pelan2 kita tanamkan kepada adek2 kita. Kita sebut ini dengan istilah penempatan cita-cita. Bagaimanakah itu, langsung saja saya menuju ke contoh sehari-hari. Setiap hari sebagai muslim wajib sholat 5 waktu. Untuk adek yg masih SD pasti malas sekali, sebagai motivasinya hadirlah konsep di pukuli di neraka dan makanan enak di surga. Lalu bagamana dengan adek  SMP, mereka ini sudah mulai bertanya untuk apa sholat. Tujuan Sholat kali ini  biar kita sehat, tidak sakit aneh-aneh. Alasan tersebut bisa menjadi motivasi mereka untuk sholat. Berlanjut ke adek SMA, ngapain sih sholat? kurang lebih jawabannya masih sama dengan adek SMP kita.

Pada akhirnya penempatan cita-cita sholat setelah memasuki tahap dewasa awal(usia 18 tahun, kuliah), kita beranjak ke penempatan cita-cita yg lebih tinggi. Yaitu sholat mencari ketenangan jiwa (psikis). Dari sini, hadirlah nuansa sholat yg selalu menenangkan (inysaAlloh). Sampai di sinilah baru bisa hadir konsep sholat untuk mencari ridhoNya.Karena hanya memperoleh ridhoNya yang membuat diri tenang. Perlu di ingat, yang saya sampaikan mengenai tujuan sholat untuk adek SD, SMP, SMA dan kuliah, td bukan lah alasan kenapa kita sholat, tp itu adalah hikmah kita sholat.

Jadi, dalam tahapan yg saya sebutkan di atas td pamrih selalu ada, dan itu tidak salah. Pamrih di sini adalah tujuan, orientasi, yang bertahab yang nantinya akan menuju yang Utama dan Kekal. Karena ikhlas adalah tidak mengharap apa pun selain Alloh.

*susah yo ikhlas iku, hehehehe*

Konsep Ikhlas Yang Salah

Dulu, waktu saya masih kecil. Entah itu TK atau SD saya lupa tepatnya.Banyak pelajaran yg menekankan artinya bekerja tanpa pamrih, menolong tanpa pamrih, atau tanpa pamrih lainnya.

Waktu saya masih kecil, rasanya malasa sekali. Harus melakukan sesuatu yg saya tidak boleh mengharapkan apa pun. Karena konsep tanpa pamrih yg diartikan tidak mengharapkan apa pun. Tapi tunggu dulu, Tuhan bilang ada pahala untuk saya yg sholat, untuk saya yg menolong orang laen. Dan orang dewasa waktu itu bilang saya tidak boleh mengharapkan semua itu? hanya karena kita harus ikhlas???. Ini konsep yg menyesatkan, harusnya saya waktu kecil tidak mendengarkan petuah ini.

Dalam pengenalan akidah agama, anak kecil TK seperti saya dulu. Tidak akan paham konsep ikhlas seperti itu (tidak mengharapkan apa pun). Saya waktu itu hanya paham klo nakal di pukul, klo baek dicium. Saya tidak akan paham maksud dr tidak mengharapkan apa-apa. Secara tidak langsung itu membingungkan anak kecil dalam menempatkan tujuan, cita2 atau prioritas.

Dalam kenyataanya, tidak ada hal tanpa pamrih itu. Semua itu pamrih, semua ada balasannya. Perkara penempatan kata ikhlas, harusnya tidak disampaikan dengan “tidak mengharapkan apa pun” atau tanpa pamrih. Melainkan penempatan tujuan atau cita-cita. Dan penempatan cita2 itu harusnya sesuai dengan umurnya. Biarlah adek2 kecil sholat mengejar pahala surga, takut di pukuli di neraka. Karena adek2 kecil seperti saya waktu TK dulu tidak paham kalimat “sholat itu hanya untuk ridho Alloh”.

jadi, menurut hemat saya, konsep ikhlas itu bukan tidak mengharapkan apa pun. Melainkan mengharapkan Alloh, bukan tidak mengharapkan apa pun. Dan konsep ini pun tidak akan berguna jika di sampaikan pada anak-anak. Semuanya bertahap, dan anak kecil biarlah menjadi anak-anak.  Kadang orang dewasa memaksa mereka berlaku dewasa.  Sungguh menyesatkan kalimat, “beribadah tidak mengharapkan apa pun. ” Saya sempat sesat n bingung sekali gara2 konsep ini T_T.

trus….. ngantuk saya :p

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!